Hujan turun tipis ketika Mei Lin membuka lemari kayu tua milik neneknya. Sudah tiga minggu sejak pemakaman, tetapi apartemen kecil di kawasan lama Makau itu masih menyimpan aroma minyak kayu putih, teh melati, dan dupa yang seolah menolak pergi bersama pemiliknya isasevent.com

Mei sebenarnya tidak berniat tinggal lama.

Ia hanya ingin membereskan barang-barang, menjual apartemen, lalu kembali ke Hong Kong sebelum Senin. Hidupnya sudah cukup kacau. Perusahaan tempatnya bekerja baru saja mengumumkan pemangkasan karyawan, hubungannya dengan ibunya memburuk, dan tunangannya mulai mempertanyakan mengapa Mei selalu menghindari pembicaraan tentang pernikahan.

Namun semuanya berubah ketika ia menemukan sebuah jurnal bersampul merah gelap.

Di halaman pertama tertulis nama neneknya dalam karakter Tionghoa lama.

Lau Siu Mei, 1962.

Di bawah nama itu terdapat satu kalimat pendek.

“Jangan percaya cerita keluarga sebelum kau tahu siapa yang pertama kali menceritakannya.”

Mei membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu ia mulai membuka halaman demi halaman.

Angka yang Tak Pernah Dijelaskan

Sejak kecil, Mei selalu mendengar satu cerita yang sama tentang keluarganya.

Kakek buyutnya, Lau Wen, konon menghancurkan kehidupan keluarga karena perjudian. Ia disebut sebagai lelaki yang terobsesi pada angka, taruhan, dan permainan togel yang berkembang di lingkungan masyarakat Makau pada masa kolonial Portugis.

Menurut cerita ibunya, Lau Wen kehilangan rumah keluarga.

Menurut pamannya, ia bahkan meninggalkan istri dan anak-anaknya karena utang.

Nenek Mei hampir tidak pernah membicarakannya.

Setiap kali seseorang menyebut namanya, ia hanya berkata, “Orang mati tidak bisa membela dirinya sendiri.”

Dulu Mei menganggap kalimat itu sebagai bentuk rasa malu.

Sekarang, sambil membaca jurnal tua tersebut, ia mulai berpikir sebaliknya.

Neneknya mungkin sedang melindungi sebuah rahasia.

Jurnal itu memuat catatan tentang angka-angka, nama orang, tanggal, alamat kedai teh, dan beberapa istilah perjudian yang tidak dipahami Mei. Ada juga potongan koran tentang penggerebekan tempat permainan ilegal.

Beberapa halaman bahkan berisi daftar nomor yang menyerupai catatan hasil togel.

Bagi Mei yang hidup di zaman ketika orang cukup mengetik istilah seperti togel online macau untuk menemukan berbagai informasi digital tentang permainan angka, catatan neneknya terasa seperti berasal dari dunia yang sama sekali berbeda.

Pada masa itu tidak ada layar ponsel.

Tidak ada transaksi instan.

Tidak ada jejak digital.

Yang ada hanyalah kertas, bisikan, kepercayaan, dan ketakutan.

Namun satu nama terus muncul.

Antonio Ferreira.

Lelaki dalam Foto Hitam Putih

Di antara halaman jurnal, Mei menemukan sebuah foto.

Seorang pria Tionghoa berdiri di samping seorang pria Portugis di depan bangunan tua. Di belakang mereka terlihat papan bertuliskan nama sebuah toko percetakan.

Pria Tionghoa itu dikenalnya.

Lau Wen.

Kakek buyut yang selama puluhan tahun dianggap sebagai penjudi yang menghancurkan keluarga.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan:

“Ia tidak bermain untuk menang. Ia mencatat agar orang lain tidak dicurangi.”

Mei merasakan tengkuknya merinding.

Keesokan harinya, ia membawa foto itu kepada Tio Ming, adik neneknya yang kini berusia delapan puluh dua tahun.

Begitu melihat foto tersebut, wajah lelaki tua itu berubah.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Dari jurnal Nenek.”

Tio Ming langsung berdiri.

“Bakar jurnal itu.”

Mei terdiam.

“Kenapa?”

“Karena keluargamu sudah selamat dengan melupakan.”

“Tapi bagaimana kalau yang kita lupakan adalah kebohongan?”

Tio Ming menatapnya lama.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah Mei bayangkan.

“Lau Wen tidak kehilangan rumah karena berjudi.”

“Jadi karena apa?”

“Karena ia menjualnya.”

“Untuk membayar utang?”

Tio Ming menggeleng.

“Untuk menyelamatkan tiga keluarga.”

Kebenaran yang Lebih Rumit

Sedikit demi sedikit, cerita lama mulai terbuka.

Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Lau Wen bekerja sebagai pencatat di sebuah percetakan kecil. Diam-diam, tempat itu juga mencetak lembar angka untuk jaringan perjudian lokal.

Ia memiliki kemampuan matematika yang baik dan sering memeriksa pencatatan uang.

Menurut Tio Ming, Lau Wen menemukan bahwa seorang operator lokal memanipulasi hasil pembayaran. Pemenang tertentu tidak dibayar penuh, sementara keluarga miskin yang berutang dipaksa menyerahkan barang atau properti.

Antonio Ferreira, pria Portugis dalam foto, adalah pegawai administrasi tingkat rendah yang membantu Lau Wen mengumpulkan bukti.

Namun situasinya berbahaya.

Salah satu keluarga yang terjerat utang adalah keluarga nenek Mei sendiri.

Lau Wen akhirnya menjual rumahnya untuk membayar beberapa utang sekaligus dan membantu orang-orang yang menjadi korban keluar dari tekanan jaringan tersebut.

Setelah itu ia menghilang dari Makau.

Bukan karena melarikan diri dari utang.

Ia melarikan diri karena menerima ancaman.

“Lalu kenapa semua orang bilang dia penjudi?” tanya Mei.

Tio Ming tersenyum pahit.

“Karena cerita itu lebih aman.”

Keluarga sengaja membiarkan masyarakat percaya bahwa Lau Wen adalah seorang pecandu judi yang gagal.

Seorang penjudi yang melarikan diri tidak menarik perhatian.

Seorang pembocor rahasia jauh lebih berbahaya.

Konflik yang Belum Mati

Mei mengira penemuannya hanya akan mengubah pandangannya tentang masa lalu.

Ia salah.

Beberapa hari kemudian, seorang pengusaha bernama Victor Lau menghubunginya.

Victor adalah sepupu jauh yang kini mengelola perusahaan properti keluarga.

Ia mengetahui Mei telah menemukan jurnal tersebut.

“Aku mau membelinya,” katanya ketika mereka bertemu di sebuah restoran hotel.

“Jurnal?”

“Semua isinya.”

“Kenapa?”

Victor tersenyum.

“Itu dokumen keluarga.”

“Justru karena itu aku tidak akan menjualnya.”

Senyum Victor menghilang.

Ia kemudian menjelaskan bahwa salah satu nama dalam jurnal terhubung dengan pendiri perusahaan yang kini menjadi mitra bisnis keluarganya.

Jika cerita lama dipublikasikan, reputasi beberapa keluarga berpengaruh bisa terganggu.

“Kau akan menghancurkan hubungan bisnis demi cerita enam puluh tahun lalu?”

Mei menatapnya.

“Bukankah itu yang dilakukan keluarga kita selama ini? Mengorbankan kebenaran demi hubungan?”

Victor menyandarkan tubuh.

“Kadang kebenaran tidak menyelamatkan siapa pun.”

Kalimat itu menghantui Mei sepanjang malam.

Karena mungkin Victor benar.

Membuka rahasia tersebut tidak akan menghidupkan Lau Wen.

Tidak akan mengembalikan rumah yang pernah dijual.

Tidak akan menghapus stigma yang sudah bertahan puluhan tahun.

Namun diam juga berarti membiarkan kebohongan terus diwariskan.

Rahasia Terakhir Nenek

Pada halaman terakhir jurnal, Mei menemukan sebuah amplop yang belum pernah dibuka.

Di dalamnya terdapat surat untuk ibunya.

Namun nama penerima telah dicoret.

Nenek kemudian menulis satu kalimat baru:

“Berikan kepada cucuku ketika ia cukup berani untuk tidak membenci keluarganya.”

Mei membacanya perlahan.

Dalam surat itu, nenek mengakui bahwa ia sendiri yang membantu menyebarkan cerita bahwa ayahnya seorang penjudi.

Saat itu ia baru berusia tujuh belas tahun.

Ia melakukannya karena takut.

Namun selama puluhan tahun, rasa bersalah mengikutinya.

“Aku membenci ayahku agar aku bisa bertahan hidup tanpa merindukannya,” tulis sang nenek.

Kalimat berikutnya membuat Mei menangis.

“Lalu aku mengajarkan kebencian itu kepada anak-anakku, dan mereka mengajarkannya kepadamu.”

Untuk pertama kalinya, Mei memahami sesuatu tentang keluarganya.

Mereka bukan keluarga yang dibentuk oleh perjudian.

Mereka dibentuk oleh rasa takut.

Dan rasa takut itu diwariskan seperti nama keluarga.

Identitas yang Selama Ini Hilang

Mei akhirnya tidak menerbitkan jurnal itu sebagai skandal.

Ia juga tidak menjualnya kepada Victor.

Sebaliknya, ia menyusun arsip keluarga.

Ia mencari catatan lama, mewawancarai kerabat yang masih hidup, mengunjungi bangunan bekas percetakan, dan mencocokkan kisah neneknya dengan dokumen sejarah yang bisa ia temukan.

Beberapa bagian tetap menjadi misteri.

Ia tidak pernah mengetahui ke mana Lau Wen pergi.

Ia juga tidak menemukan bukti pasti tentang bagaimana hidupnya berakhir.

Namun Mei tidak lagi membutuhkan akhir yang sempurna.

Ia sudah menemukan sesuatu yang lebih penting.

Selama bertahun-tahun, ia merasa tidak benar-benar menjadi bagian dari mana pun.

Terlalu Hong Kong ketika berada di Makau.

Terlalu Makau ketika kembali ke Hong Kong.

Terlalu modern untuk tradisi keluarganya, tetapi terlalu terikat pada masa lalu untuk benar-benar meninggalkannya.

Kini ia memahami bahwa identitas tidak selalu datang dari cerita yang rapi.

Kadang identitas lahir dari keberanian membongkar cerita yang berantakan.

Beberapa bulan kemudian, Mei berdiri di balkon apartemen neneknya.

Ia batal menjual tempat itu.

Di meja terdapat jurnal merah, foto Lau Wen, dan laptop yang menampilkan dokumen baru dengan judul:

“Angka yang Tidak Pernah Tentang Keberuntungan.”

Mei tersenyum.

Dulu keluarganya percaya bahwa angka telah menghancurkan mereka.

Padahal bukan angka yang menghancurkan apa pun.

Ketakutanlah yang melakukannya.

Kebohonganlah yang membuat luka bertahan.

Dan kebenaran, meski datang enam puluh tahun terlambat, akhirnya memberi Mei sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh kemenangan, uang, atau keberuntungan.

Sebuah jawaban tentang siapa dirinya.

Ia adalah cucu dari perempuan yang hidup dengan rasa bersalah.

Keturunan dari lelaki yang memilih dikira bersalah demi melindungi orang lain.

Dan, untuk pertama kalinya, Mei merasa bangga membawa nama keluarga Lau.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *